Gagal Sampai Puncak


 

Ahlan Sobat Safar

    Bagi beberapa orang, kegiatan menaiki suatu gunung merupakan salah satu cara untuk menghilangkan stress berlebih. entah itu stress akibat tuntunan pekerjaan ataupun pendidikan. Maka dari itu ketika ada waktu luang walaupun hanya 2 hari saja, mereka akan langsung menuju tempat - tempat yang mereka senangi tersebut. Tentu kebanyakan dari pendaki akan mengincar sampai puncak agar bisa dikatakan berhasil menaiki gunung tersebut. Tapi pernah ga sih Sobat Safar gagal mencapai puncak karena 'diganggu'.?

    Mungkin sebagian dari kalian tidak akan percaya kok ada sih pendaki yang diganggu sama makhluk halus.?

    Penulis pun sebelumnya tidak percaya akan hal tersebut. Pendakian kali ini sama seperti pendakian sebelumnya. Kami pergi dengan tim yang sudah berpengalaman menaiki gunung tersebut. Yaa... kali ini penulis menaiki salah satu gunung yang bersebelahan dengan Gunung Ijen atau Kawah Ijen.

    Gunung Ranti merupakan sebuah gunung yang memiliki ketinggian sekitar 2601 Mdpl. Lokasi Gunung Ranti bersebelahan dengan Kawah Ijen. Seperti hal nya dengan Kawah Ijen, akses untuk menuju Gunung Ranti pun sangat mudah. Bagi kalian yang bertempat tinggal di sekitar Bondowoso, Jember, Banyuwangi. Kalian bisa mengendarai motor ataupun Damri. Untuk akses Damri pun sama saja, Kalian bisa memilih rute Paltuding Ijen. 

    Banyak yang tidak mengetahui Gunung Ranti ini. Karena Gunung Ranti kalah pamor nya dengan Kawah Ijen, sebagian masyarakat sekitar daerah sana pun masih belum mengetahui keberadaan Gunung Ranti tersebut. Gunung ranti memiliki 5 pos check point dengan jarak antar pos nya berkisar muladi dari 30 menit dan 1 jam. Tingkat kontur tanahnya pun bisa di bilang lumayan tinggi. Kaki bisa bertemu dengan dada saat menaiki kontur tanah tersebut. 


    Terdapat 2 jalur pendakian Gunung Ranti yakni jalur lama dan jalur baru. Disarankan bagi para pendaki yang ingin menaiki Gunung Ranti agar memilih jalur baru dikarenakan jalur lama yang sudah di tutup. Untuk puncak dari Gunung Ranti tersebut belum di buka ya Sobat Safar. Sobat Safar hanya bisa mengakses hingga camp area saja, dikarenakan jalur dari camp area menuju puncak sangatlah curam dan masih menjadi habitat asli dari macan kumbang. Jadi hanya petugas basecamp saja yang diperbolehkan mengunjungi puncak tersebut. Tidak perlu khawatir yaa, di camp area nya pun sudah di sediakan plakat agar kalian bisa mengabadikan moment di atas nanti.

    Pendakian kali ini saya tidak camp alias tektok. yap tektok kembali dikarenakan saya hanya memiliki waktu yang sangat sebentar saja. Persiapan pendakian pun sudah di persiapkan dengan sedemikian rupa, mulai dari itu fisik maupun perlengkapan. Tektok kami mulai pada pukul 2 pagi, pendakian ini pun dibarengi bersama para anggota Basecamp yang ingin mengecek jalur.

     Kami pun melakukan pendakian melewati rute jalur baru. Jalur baru ini masih sangat rapat sekali dengan tanah yang berdebu. Terdapat sumber mata air setelah pos 1, jadi tak perlu khawatir kalau kehabisan persediaan air. Ketika itu salah satu anggota pendakian kami merasa tidak kuat untuk naik. Seperti halnya seseorang yang tidak pernah olahraga dan langsung menaiki gunung. Bahkan beberapa kali berhenti sejenak dan mengambil nafas. Akan tetapi, ketika melanjutkan perjalanan kembali, kondisi seorang pendaki tersebut sama seperti sebelumnya.

    Saya pun menaruh rasa heran kepadanya, pasalnya waktu itu dia pun kuat menaiki Kawah Ijen yang bentuk struktur tanah yang hampir mirip dengan Ranti ini. Saya pun berdiri di belakangnya untuk berjaga jaga ketika tertinggal dari rombongan. Sesampainya di pos 3, kondisi tubuhnya sangat tidak memungkinkan untuk naik sampai puncak. Kondisi mata yang sudah sangat merah sekali, baru kali ini saya melihat kondisi dari teman saya tersebut. Pada akhirnya saya menemani dia untuk turun ke Basecamp kembali dan meminta pada rombongan lain agar melanjutkan perjalanan mereka.

    Hanya tersisa kami berdua saja di tengah perjalanan tersebut. Saya masih berpikir positif dikala itu, pada saat bersamaan terdengar suara monyet di belakang kami berdua. Saya berpikir hanya suara hewan saja, tapi nyatanya suara tersebut lah yang membuat suasana sekitar langsung hening seketika. Ketika kami turun pun terdapat suara dari balik semak - semak, seperti suara hewan yang mengikuti gerak gerik kami berdua. Ketika kami berhenti, suara itu berhenti, dan ketika jalan kembali suara itu pun semakin dekat. Bukan hanya itu, terdapat suara langkah kaki di belakang kami berdua. Padahal hanya kami berdua saja yang berada di tempat tersebut.

    Mungkin ketika itu teman saya sudah tidak kuat lagi akan gangguan tersebut dan langsung ingin bercerita ketika itu. Akan tetapi saya melarangnya untuk cerita pada saat kejadian berlangsung dikarenakan saya tidak ingin terjadi hal - hal yang tidak diinginkan bagi kami berdua. Mulut saya pun tidak lepas dari dzikir. Sesampainya pada vegetasi terbuka, suara itupun sudah tidak mengikuti lagi.

    Jangan kalian berpikir gangguan ini selesai. Setelah melewati pos 1, Jalan yang dilalui kami pun mulai terasa sangat panjang sekali. Disitu saya sudah tidak bisa berpikir jernih kembali, benar - benar disitu pun kepala saya pun mulai terasa berat dan panas ketika memikirkan hal tersebut. Tetapi saya masi menaruh rasa optimis agar bisa sampai ke Basecamp kembali.

    Ketika sampai Basecamp pun kondisi teman saya tidak berubah. dia ingin sekali bercerita tentang kondisi yang kami lalui tadi, akan tetapi saya masih menolaknya untuk bercerita hingga waktu subuh tiba.

    Ketika waktu pagi tiba temanku ini pun mulai bercerita kejadian yang kami alami malam itu. Dari mulai start awal hingga dia tidak kuat menanjak, ada suara bisikan yang terkesan setengah teriak menghampirinya. Yap hanya temanku saja yang di ganggu, mungkin karena temanku ini seorang yang Kakek dan Nenek nya ini merupakan seorang kejawen dan menaruh penjaga bagi dia. Di sepanjang jalan tersebut sosok itu memaksa masuk mengambil alih tubuhnya atau yang biasa kita sebut dengan kesurupan. 

    Sosok tersebut sampai mecoba 3x masuk ke dalam tubuhnya. Entah itu masuk dari telinga, mulut bahkan kepala. Akan tetapi hal yang dilakukannya tidak berhasil. Bisikannya tersebut pun menggunakan bahasa Jawa, Temanku berbicara kalau dia mendengar bisikan dengan kalimat '' Ngapain kesini, milih pulang atau mati.'' Suara itulah yang terdengar di kupingnya hingga kami turun. Ketika di basecamp pun tiba - tiba dia pun menutup telinganya dengan sangat keras. Sepertinya sosok tersebut masih memaksa masuk ke dalam tubuhnya.

    Suasana pun kembali dengan normal. Pada akhirnya saya gagal mencapai puncak dan berniat untuk mengulang pendakian ke Gunung Ranti tersebut. Saya memilih untuk menyelamatkan nyawa teman saya daripada bertindak egois untuk menggapai puncak. Ketika sesampainya di kota, temanku tersebut mendapat kabar bahwa salah satu temannya ada yang bermimpi tentang dia, kondisi mimpi tersebut pun menurut saya agak make sense. Temannya bermimpi bahwa dia di ambil monyet besar di gunung tersebut. Ketika itu juga saya pun mencocokkan semua kejadian tersebut, entah itu dari langkah kaki yang berada di semak - semak maupun suara monyet yang kami dengar di awal.

    Saya pun mencoba bertanya hal tersebut kepada teman saya yang paham. Menurutnya benturan energi seperti itu memang sangatlah kuat dan ketika orang yang memiliki penjaga ini tidak kuat, maka akan menguras habis tenaga nya tersebut. Mungkin ini salah satu kejadian yang baru pertama kali saya saksikan sendiri dengan mata kepala saya. Waktu dulu saya tidak mempercayai hal tersebut dan saya berpikir kalau saya tidak melihat langsung saya tidak akan percaya. Dan benar saja kejadian tersebut terjadi kepada diri saya pribadi.

Mungkin dari Sobat Safar juga mempunyai pengalaman horor di suatu tempat bisa sharing di kolom komentar ya...






Komentar